Ketua TP PKK Mbak Una: Literasi Situbondo Harus Jadi Gerakan
SITUBONDO — Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Situbondo sekaligus Bunda Baca, Husna Laili, menyerukan agar gerakan literasi di Situbondo tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi budaya hidup masyarakat yang berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Husna dalam rangkaian Festival Literasi Situbondo 2025, ajang literasi pertama yang digelar di Kota Santri oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinperpusip) Kabupaten Situbondo.
“Sebagai Bunda Baca Kabupaten Situbondo, saya memiliki harapan besar agar budaya literasi di daerah kita terus tumbuh dan mengakar kuat di seluruh lapisan masyarakat. Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga tentang kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, dan membangun karakter serta peradaban yang unggul,” ujar mbak Una, sapaan akrabnya, Sabtu 11/10/25.
Ia berharap budaya membaca semakin berkembang di Situbondo, terutama di kalangan anak-anak dan generasi muda.
Menurutnya, keberadaan perpustakaan desa, taman baca masyarakat, dan pojok baca sekolah perlu terus diberdayakan agar akses literasi bisa dijangkau semua kalangan.
“Ke depan, kegiatan literasi berbasis kearifan lokal seperti menulis cerita rakyat, membaca puisi berbahasa Madura atau Osing, dan menggali sejarah lokal bisa menjadi bagian dari program literasi daerah,” tambahnya.
Selama delapan bulan menjalankan perannya sebagai Bunda Baca, Husna mengaku telah merasakan geliat literasi yang mulai tumbuh di masyarakat.
“Saya melihat semangat membaca mulai muncul, khususnya di kalangan anak-anak sekolah dasar dan komunitas literasi lokal. Namun, masih banyak wilayah pedesaan yang belum memiliki akses literasi memadai, baik dari segi buku bacaan maupun sarana pendukung,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor agar gerakan literasi dapat berjalan berkelanjutan.
“Keberhasilan gerakan literasi tidak bisa berdiri sendiri. Dukungan dari pemerintah, sekolah, komunitas, dan para orang tua sangat menentukan keberlanjutan program-program literasi yang ada,” ujarnya.
Menurutnya, anak-anak Situbondo memiliki potensi besar dan imajinasi tinggi.
“Mereka hanya butuh ruang, akses, dan dorongan agar bisa tumbuh menjadi generasi yang literat dan kreatif. Membangun literasi adalah membangun masa depan,” katanya.
Husna juga mengaku melihat peningkatan keaktifan pembaca di Situbondo dalam beberapa bulan terakhir.
Sekolah-sekolah mulai rutin mengadakan kegiatan baca di luar jam pelajaran, taman bacaan masyarakat semakin aktif, dan komunitas literasi lokal mulai memanfaatkan media sosial untuk berbagi informasi serta ulasan buku.
“Saya optimis, keaktifan membaca akan terus tumbuh jika kita konsisten membangun kebiasaan dan memberikan ruang yang mendukung. Budaya literasi tidak lahir dalam sehari, tapi akan tumbuh kuat jika terus dipupuk bersama,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Bunda Baca Situbondo itu memberikan pesan khusus kepada generasi muda agar menjadikan membaca sebagai gaya hidup.
“Pemuda Situbondo adalah harapan masa depan. Masa depan hanya bisa dibangun oleh generasi yang cerdas, berpikir kritis, dan terus belajar. Semua itu dimulai dari membaca,” pesan mbak Una.
Ia juga mendorong para pemuda untuk mulai dari langkah kecil.
“Cukup baca 10–15 menit sehari, pilih bacaan yang kalian sukai. Jadilah pemuda Situbondo yang literat bukan hanya bisa membaca, tapi mampu memahami, berpikir, dan bertindak cerdas. Karena dari pemudalah perubahan akan lahir,” pungkasnya.
(Diskominfo Situbondo)
Dibaca : 34X



Pemerintah Kabupaten Situbondo