Dispertangan Situbondo Dorong Regenerasi Petani, Gandeng Milenial Garap Pertanian Modern
09 Sep
Dispertangan Situbondo Dorong Regenerasi Petani, Gandeng Milenial Garap Pertanian Modern

SITUBONDO – Pemerintah Kabupaten Situbondo mendorong lahirnya generasi baru di sektor pertanian dengan melibatkan petani milenial.

Langkah ini diambil untuk menghadapi tantangan regenerasi petani yang selama ini dinilai berjalan lambat.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertangan) Situbondo, Dadang Aries Bintoro, menegaskan bahwa peluang besar terbuka lebar bagi generasi muda untuk mengembangkan pertanian modern berbasis teknologi.

“Tren pertanian kita stagnan karena masih konvensional dan regenerasi petani belum berjalan maksimal. Nah, ini justru menjadi peluang bagi anak-anak muda untuk tampil dan menggeliatkan pertanian,” kata Dadang dalam acara Temu Petani Milenial di Pendopo Rakyat Situbondo, Selasa (9/9/25).

Ia menyebut, pertanian selama ini tetap menjadi salah satu penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Situbondo, meskipun kontribusinya mulai tergerus oleh sektor lain seperti industri pengolahan dan informasi komunikasi.

Menurutnya, perhatian besar dari pemerintah pusat maupun daerah kepada petani milenial menjadi modal kuat untuk mewujudkan pertanian yang lebih maju.

“Bapak Menteri Pertanian sudah menegaskan, dengan intervensi teknologi, pendapatan petani milenial bisa melampaui gaji karyawan. Minimal Rp10 juta per bulan, dan ini sudah dibuktikan,” ujarnya.

Data Dispertangan mencatat, Kabupaten Situbondo telah menerima sejumlah bantuan dari Kementerian Pertanian untuk mendukung produksi, mulai dari 14 unit pompa brigade, 22 unit pompanisasi, 150 unit irigasi perpompaan, 15 unit irigasi perpipaan, hingga benih padi dan jagung.

Target produksi tahun 2025 ditetapkan sebesar 65 ribu hektare untuk padi dan 54 ribu hektare untuk jagung. Hingga Agustus 2025, capaian tanam padi sudah 61,32 persen dan jagung 51,35 persen.

Dadang optimistis dengan hadirnya petani milenial, target tersebut bisa tercapai sekaligus menjadi pintu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pertanian ini bukan lagi sekadar kerja tradisional, tapi bisa dikelola sebagai bisnis. Dari hulu sampai hilir bisa jadi industri UMKM,"

Contoh komoditas kapulaga, harganya stabil bahkan meningkat, sehingga memberi keuntungan yang besar,” pungkasnya.

 

(Diskominfo Situbondo)


Dibaca : 71X