Pemkab Situbondo Dorong Percepatan Penurunan Stunting Lewat Gerakan Orang Tua Asuh
09 Sep
Pemkab Situbondo Dorong Percepatan Penurunan Stunting Lewat Gerakan Orang Tua Asuh

SITUBONDO – Pemerintah Kabupaten Situbondo terus memperkuat langkah penanggulangan stunting dengan menggalakkan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).

Program berbasis gotong royong ini kembali ditegaskan dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Daerah Situbondo, Wawan Setiawan, Selasa (9/9/2025) di Aula Lantai 2 Kantor Pemkab.

Rakor tersebut menghadirkan jajaran perangkat daerah, pemerintah desa, swasta, hingga komunitas masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Wawan menekankan bahwa GENTING bertujuan menghubungkan orang tua asuh dengan keluarga berisiko stunting, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, baduta (0–23 bulan), dan balita (24–59 bulan).

“Dukungan yang diberikan tidak hanya nutrisi, tetapi juga intervensi non-nutrisi seperti jambanisasi, rumah layak huni, dan penyediaan air bersih. Semua ini penting, terutama pada periode emas 1.000 hari pertama kehidupan (HPK),” jelasnya.

Untuk bantuan nutrisi, standar nasional mengatur minimal Rp15 ribu per hari.

Namun Pemkab Situbondo menerapkan kebijakan fleksibel, yakni minimal Rp10 ribu per hari, agar lebih banyak pihak bisa berpartisipasi tanpa merasa terbebani.

“Yang terpenting kesinambungan bantuan. Bisa tiga bulan, enam bulan, bahkan hingga dua tahun,” tambahnya.

Sebagai payung hukum, Bupati Situbondo telah menerbitkan Surat Keputusan Tim Percepatan Gerakan (TPG) serta Surat Edaran Nomor 100.3.4.2/51 431 001/2025.

Surat edaran itu mewajibkan seluruh pemangku kepentingan—mulai kepala OPD, direktur Perusda, kepala desa/lurah, hingga pimpinan organisasi non-pemerintah—untuk terlibat aktif dalam GENTING. Desa dan kelurahan bahkan didorong menerbitkan SK khusus untuk memperkuat pelaksanaannya.

Meski edukasi gizi sudah melampaui target, bantuan nutrisi dinilai masih minim. Dari target sekitar 3.300 keluarga penerima, baru 333 keluarga yang sudah mendapatkan layanan.

“Masih ada kesenjangan. Karena itu kita butuh lebih banyak orang tua asuh,” ungkap Wawan.

Sejumlah intervensi non-nutrisi sudah mulai berjalan, misalnya penyediaan rumah layak huni berkat inisiatif penyuluh KB di Kecamatan Besuki.

Program jambanisasi dan penyediaan air bersih juga akan diprioritaskan.

“Stunting bukan hanya soal gizi, tetapi juga soal sanitasi dan lingkungan sehat,” tegasnya.

Data terbaru menunjukkan partisipasi masyarakat dalam GENTING mulai tumbuh: tercatat tiga mitra perorangan, 18 komunitas/LSM, dan dua mitra swasta telah bergabung.

Namun, dari kalangan BUMN dan media, partisipasi masih nihil. Pemkab berharap semakin banyak pihak mendaftarkan diri sebagai orang tua asuh agar cakupan intervensi semakin luas.

Bupati Situbondo dalam surat edarannya juga menegaskan bahwa bantuan dapat disalurkan langsung oleh orang tua asuh atau melalui program Detik Berharga (Sedekah Stunting untuk Keluarga Prasejahtera) yang dikelola Dinas P3AP2KB. Semua transaksi tercatat secara transparan melalui rekening resmi Bank Jatim.

Untuk menjamin efektivitas, Pemkab Situbondo mewajibkan laporan rutin setiap bulan.

Tim evaluasi melibatkan TP PKK, Bappeda Litbang, dan Inspektorat agar Bupati dapat memantau langsung perkembangan capaian di lapangan.

Rakor ini menghasilkan komitmen bersama lintas sektor untuk mempercepat penurunan stunting di Situbondo.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kepedulian kolektif, mulai dari pemerintah, dunia usaha, komunitas, hingga media. Dengan semangat gotong royong, target percepatan penurunan stunting insyaAllah bisa tercapai,” pungkas Wawan Setiawan.

 

(Diskominfo Situbondo)


Dibaca : 43X