Kisah Kiai Wirobroto, Pembabat Hutan Demung yang Jadi Tonggak Sejarah Besuki
07 Sep
Kisah Kiai Wirobroto, Pembabat Hutan Demung yang Jadi Tonggak Sejarah Besuki

SITUBONDO – Kepala Desa Demung, Aguk Prayogi, mengisahkan sejarah awal mula terbentuknya Besuki dalam kegiatan Bapak Tilas Besuki yang digelar pada Minggu (7/9/2025).

Aguk menyebut tokoh penting bernama Kiai Raden Abdurrahman Wirobroto, keturunan Pakubuwono II, sebagai pembabat pertama wilayah Demung.

Menurutnya, kisah bermula ketika terjadi paceklik hebat di Desa Tanjung, Pamekasan, Madura.

Kondisi itu membuat kehidupan Kiai Wirobroto serba sulit meski dirinya seorang bangsawan.

“Sehingga beliau mendapat petunjuk hijrah dimulai dari pantai Cumiang, Madura,” ungkap Aguk.

Catatan sejarah menyebut, hijrah itu terjadi pada 28 September 1741 Masehi.

Dari Pamekasan, Madura, Kiai Wirobroto menuju Nambokor yang kini masuk wilayah Dusun Ketah Kulon. Setibanya di Jawa, ia membabat hutan belantara di wilayah barat selatan hingga lahirlah Demung.

Proses tersebut berlangsung dua tahun. Pada 10 Muharram 1743 Masehi, Demung berkembang menjadi daerah subur dan makmur.

"Karena Demung sudah cocok, beliau pulang ke Madura dan mengajak putranya, Raden Bagus Kosim Wirodipuro atau Kiai Pate Alos, untuk kembali ke Demung,” jelas Aguk.

Rombongan itu hanya membawa bekal berupa kelapa, yang dulu banyak tumbuh di Demung.

Bersama 20 kepala keluarga, mereka menetap hingga muncullah sebutan Dusun Madura karena dihuni banyak pendatang dari Madura.

Demung pun kian maju dengan kehadiran Kiai Wirobroto dan Kiai Pate Alos. Keduanya berguru pada seorang tokoh besar di Jokotole.

Dari gurunya, Kiai Wirobroto mendapat pesan agar memilih berada di bawah Probolinggo, bukan Sentong (Bondowoso).

Ketika Sentong berusaha menjajah Demung, terjadi pertempuran sengit.

“Alhamdulillah dimenangkan peperangan pada waktu itu, perang melawan Sentong dimenangkan oleh Ki Wirobroto sampai Ki Wiro mengejar ke daerah Suboh,” tutur Aguk.

Dari peristiwa itu pula muncul nama Suboh, lantaran perang usai saat terdengar kokok ayam di waktu Subuh.

Setelah kemenangan tersebut, Pangeran Joyorono dari Probolinggo mengutus pamannya menemui Kiai Wirobroto.

Atas pesan gurunya, ia menerima tawaran menjadi bawahan Joyokrono. Sejak itu, hubungan Demung dan Probolinggo kian erat.

Putra Kiai Wirobroto, Raden Bagus Kosim Wirodipuro, dikenal berperangai halus, cakap strategi, dan sakti mandraguna hingga akhirnya dipersunting sebagai menantu Pangeran Joyokrono.

“Dari sinilah Besuki mulai dikenal, karena ada petunjuk dari Pangeran Joyokrono,” terang Aguk.

Kiai Wirobroto kemudian diangkat menjadi Demang pertama Demung.

Namun ia tetap memilih tunduk kepada Probolinggo, bukan kerajaan lain yang hendak menjajah wilayahnya.

Pada 8 September 1760, Kiai Wirobroto berpindah ke Kali Jumain.

Peristiwa itu menjadi pijakan lahirnya hari jadi Besuki, yakni 8 September 1764.

“Sehingga hari ini usia Besuki sudah 261 tahun. Mudah-mudahan ke depan Demung, Besuki, dan Situbondo pada umumnya selalu mendapat barokah dari Allah,” pungkas Aguk Prayogi.

 

(Diskominfo Situbondo)


Dibaca : 219X