Bupati Situbondo Apresiasi Bedah Buku Berjudul Demi Ikan Sejuta Umat
17 Jun
Bupati Situbondo Apresiasi Bedah Buku Berjudul Demi Ikan Sejuta Umat

SITUBONDO - Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengapresiasi bedah buku berjudul "Demi Ikan Sejuta Umat" karya Novi Basuki. Acara tersebut berlangsung di Pendopo Rakyat Situbondo.

Bupati yang akrab disapa Mas Rio ini mengatakan, bahwa kegiatan bedah buku bisa dijadikan sebagai landasan pengambilan kebijakan yang berorientasi pada pengetahuan. Sehingga, acara tersebut sangat bermanfaat untuk Pemkab Situbondo.

"Dari kegiatan bedah buku karya Novi Basuki semacam ini bakal tercipta dialog intelektual. Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih Novi Basuki yang mau berbagi ilmu kepada kalangan akademisi, mahasiswa, serta masyarakat umum,”ucapnya melalui telekonferensi.

Menurutnya, kisah perjalanan Novi Basuki sangat inspiratif. Sebab, sosoknya yang tinggal di daerah terpencil di Kabupaten Situbondo, tetapi ia bisa menempuh pendidikan studi S1, S2 hingga S3 di China.

"Semoga dengan dilaksanakannya bedah buku di Pendopo Rakyat Situbondo ini menjadi simbol penting pertemuan gagasan dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat Kabupaten Situbondo," tegas Bupati Situbondo.

Mas Rio juga menyampaikan, bahwa kegiatan literasi seperti peluncuran buku ini dapat menjadi pemicu lahirnya generasi cerdas yang mampu berpikir kritis, adaptif, dan bersaing secara global.

"Peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Situbondo untuk mendorong budaya baca dan literasi, serta menjadikan ruang-ruang publik sebagai pusat pertumbuhan intelektual masyarakat," bebernya.

Bupati mengungkapkan, ke depan Situbondo siap untuk mencetak generasi muda sebagai pemimpin masa depan dengan pemikiran internasional.

"Dengan mendukung karya anak muda Situbondo yang telah belajar hingga ke luar negeri, Situbondo bukan hanya siap mencetak pemikir lokal, namun juga akan ada pemimpin masa depan berkelas internasional," tegasnya.  

Sementara itu, Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah meminta kepada Novi Basuki menularkan ilmunya kepada mahasiswa dan masyarakat yang menghadiri bedah buku di Pendopo Rakyat Situbondo ini. Sehingga, akan muncul Novi Basuki -Novi Basuki baru di Kota Santri.

"Dengan bedah buku sekaligus dialog ini, saya berharap para mahasiswa, para pemuda dan pemudi serta masyarakat umum yang ikut dalam kegiatan bedah buku karya Novi Basuki ini agar bisa mengikuti jejak atau kiprah Mas Novi Basuki yang tinggal di daerah terpencil Situbondo hingga kuliah S3 di Tingkok," ujarnya.

Di sisi lain, penulis buku Demi Ikan Sejuta Umat, Novi Basuki menyatakan, bahwa perjuangannya untuk melobi perusahan pembuat kapal di negara China tidaklan mudah. Sebab, pada saat itu sedang ganas-ganasnya pandemi Covid-19.

"Ketika saya sampai di Tiongkok kala itu, saya harus menjalani karantina 10 hari. Coba bayangkan, waktu yang berikan 7 hari, sedangkan saya harus menjalani karantina 10 hari," ungkapnya.

"Secara teknologi kapal penangkap ikan yang dibuat perusahaan di Tingkok tidak begitu canggih, tapi harus kita akui kapal penangkap ikan Indonesia ketika dibandingkan dengan kapal penangkap ikan dari Negara Tongkok tertinggal jauh," imbuh Novi Basuki.

Singkat cerita, kata Novi Basuki, ia berhasil melobi perusahan pembuat kapal di China, tapi tidak ada tindaklanjutnya. Padahal, harga kapal penangkap ikan di Tiongkok sudal diil. Hal ini terkendala dengan birokrasi di Indonesia yang banyak aturan.

"Sehingga, sampai saat ini penjualan kapal tersebut masih belum bisa dilakukan. Tapi, saya katakan bahwa Tingkok ini merupakan negara yang banyak memberikan inspirasi bagi saya. Dan dari sinilah buku yang berjudul Demi Ikan Sejuta Umat diterbitkan," pungkasnya.

(Diskominfo Situbondo)


Dibaca : 424X